Siang itu sangat panas, aku bersama ibuku menyusuri panasnya jakarta menggunakan mobil hitam metalik kesebuah audisi. Kali ini aku diundang oleh supervisor dari sebuah agensi modelng terkemuka untuk mengikuti audisi perekrutan model yang baru.
Bagiku, kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang selalu aku lakukan. Entah sejak kapan, sepertinya dari dulu semua orang sangat mencintaiku. Menurut mereka aku itu manis, tampan, pintar, dan sempurna. Karena kesempurnaan itu hampir semua wanita mencintaiku. Aku sendiri tidak keberatan dengan kondisi itu, karena mereka selalu memujiku dan tidak pernah marah saat aku melakulan kejahilan. Hahaha...
“Cole!!! Berhenti melamun dan cepat keluar dari mobil!! Kita sudah sampai” teriak mom dari luar mobil.
“ah!! O-o-ok mom” aku jadi gelagapan karena kagetnya.
Aku dan mom memasuki sebuah hotel yang cukup terkenal di Jakarta, menurutku hotel kali ini lumayan. Saat memasuki hotel itu, meja pendaftaran sudah tertata rapi, dan para peserta yang datang untuk daftar ulang sudah cukup banyak.
Mom menarikku langsung ke meja pendaftaran dan mulai menuliskan biodataku secara lengkap sebagi salah satu syarat untuk mengikuti audisi ini. Begitu selesai mengisi biodata, aku harus menunggu sampai namaku dipanggil oleh para panitia untuk memasuki ruangan kecil yang berada agak jauh dari ruangangan tempat kami menuunggu.
Selagi menunggu aku memutuskan untuk berkeliling sambil menganalisi semua peserta yang dipilih. Saat berkeliling aku menemukan banyak peserta yang... ya lumayanlah untuk dipanggil calon model, tapi standardnya sangat kurang!!! Kecuali satu orang, Michael. Orang mengenalnya dengan nama Dimas, seorang tokoh protagonis dalam serial drama yang sangat terkenal sampai saat ini.
Selain dia, semua peserta ada yang gemuk, terlalu tinggi, pendek,kekanak kanakan, pemalu, hyperaktif, dan sebagainya. Huuh kalau begini aku bisa menang mudah ahaha... Sepertinya peserta yang kepiih sekitar 10 orang termasuk aku, tapi tentu saja hal itu sangat berbada karena AKU D-I-U-N-D-A-N-G
Hmm sudah delapan orang aku menganalisis kemampuannya, sekarang tinggal satu orang la..
“BBRRRUUUKKK!!!” aku terpental agak jau setelah seseorang menabrakku.
“ka-ka-kamu baik baik saja?” kata seorang gadis dengan suara kekanak-kanakan dan sedikit cempreng.
Dia mengulurkan tangannya untuk membantuku bangun, tapi aku tidak perlu hal itu. Aku menepis tangan itu dengan kasarnya. Kurasa dia kaget dengan perlakuanku.
“tak perlu!!! Aku tidah butuh bantuanmu!!” bentakku
Aku pun bangun sendiri sambil menganalisa gadis itu. Mataku mulai memperhatikannya dengan seksama mulai dari ujung hingga rambut. Dari nametag yang ada di pinggangnya aku mengetahui bahwa namanya APRODITE yang artinya dewa kecantikan dan cinta.
Dari pengelihatanku gadis ini lumayan juga, maksudku dia pantas untuk menjadi model. Tungkai kakinya sangat panjang dan indah dengan warna kulit kuning langsat. Dia menggunakan rok rampel yang manis selutut. Rambutnya agak bergelombang dan panjang. Mukanya oval dan mungil.
Hidungnya pun sama mungilnya tapi sangat pas dengan mukanya. Bibirnya proposional dan warnya sangat indah. Matanya menarik karena ada sesuatu berwarna coklat di samping pupilnya yang hitam gelap dan membuatku tidak dapat berhenti menatapnya.
Tunggu. Kanapa aku ti-ti-tidak dapat berhenti menatapnya!!! A-aa-aa-aku haru harus mengatakan sesuatu!
“anu... mukamu memerah, apa kamu sakit?” tanya sambil mendekat.
“T-t-t-ti-ti-ti-dak aku tidak sakit” kataku gugup
“yang terpenting sekarang adalah bajuku!! Lihat!!! Gara gara kamu bajuku lecek dan kotor!!!”
Saat mengatakan hal itu tanpa sadar aku berteriak, dan hal itu menarik perhatian yang lain kearah kami. Gadis itu tidak merespon sama sekali dan malah membuatku tambah kesal karena tatapannya ke aku sangat amat polos.
Entah apa yang membuatku kesal, tapi tanpa sadar aku memerah lagi dan mendorongnya hingga jatuh kelantai. Suara saat tubuhnya terantuk lantai sangat keras dan aku tidak peduli. Aku pun berlari menjauh. Meninggalkan gadis yang masih terduduk bingung setelah kudorong.
Semua orang melihat kearahku dengan tatapan menyindir, beberapa dari mereka bahkan mengatakan hal yang menyebalkan seperti biasanya.
“ihh itu Cole kan? Aku tahu kalau dia itu bintang yang sangat terangs aat initapi ternyata dia kurang ajar ya...” itu yang mereka katakan setiap kali mencebirku.
Aku tidak mengerti mengapa mereka selalu menyangkutkan namaku dalam dunia intertaiment dengan sikapku, seolah olah ingin melihatku sempurna dimata mereka. Mereka tidak pernah menerimaku apa adanya.
“Cole? Apa kamu mendengarkan kami?” kata seorang juri tiba tiba..
“ah maaf saya terbawa suasana... um sampai mana tadi kita. oh iya....” kataku lalu melanjutkan pembicaraan dengan para juri.
Tanpa kusadari kali ini aku sudah berada di ruangan audisi. Mungkin karena hal tadi aku jadi melamun. Entah kenapa tiba tiba yang terniang di kepalaku adalah omongan menyakitkan dari mereka yang iri padaku.
“BRIUUUUUURRR”
Suara semburan air mengalir tiba tiba terdengar, dan tanpa sadar ternyata sekarang aku ada di dalam kamar mandi. Aku sendiri juga kaget. Apa jangan-jangan aku melamun dari tadi?
Tiba tiba sekali lagi aku menyadari bahwa sekarang aku sedang terduduk di sebuah meja didekat jendela sambil menikmati sajian yangcukup sedap. Mom kemana ya... ooh iya! Ini sudah masuk pada masa karantina ya. Aku melihat keadaan sekelilingku dan menemukan meja paling besar di ujung .
Dimeja itu kedelapan peserta sedang bersuka cita dan tertawa sambil menikmati makanan yang ada. Disana aku melihat tawa semua orang terpancing karena berada didekat Aprodite. Hal itu membuatku sangat emosi, bahkan saking emosi aku sampai membuat gigiku berbunyi karena tergesek satu sama lain.
“hei!!! Apa kabar.. dari tadi kamu ngelamun saja ada apa”
“Ah! Oh Michael... ngapain kau kesini?” tanyaku sambil mengunyah makanan.
“aku kasian sama kamu yang makn sendirian dan menolak untuk bergabung dengan mereka... tapi serius kelakuanmu kali ini sangat menyebalkan. Mungkin kamu nmerasa tidak nyaman dengan para pemula seperti mereka setidaknya kamu harus bersikap yang manis dong, agar mereka semua tidak tersindir karena omonganmu! Ingat kesombonganmu pasti membawa mala petaka untuk dirimu sendiri” kata laki laki itu sambil mengambil sosis yang ada di piringku dan melahapnya.
“apaan sih!” kataku lagi dengan nada dingin.
Tapi entah kenapa aku merasa sangat kesal jika bertemu dengan gadis itu, dan emosiku semakin memincak jika dia diidekati oleh orang lain... T-t-ti-tiddak itu bukan cinta.. itu bukan cinta dan aku yakin itu.
“Berhenti menatapku seperti itu, hei mukamu memerah lho! Cepat singkirkan tatapan menjijikan itu!!! jangan sampai orang salah paham mengerti?!”
“iya iya.. dasar bawel” kataku lagi. Kali ini mataku menatap meja Aprodite, tapi gadis yang aku cari ternyata tidak ada di tempatnya.
“hei! Haha dari taddi kamu menatap mejaku terus ada apa sih? Tanya seseorang dengan nada cempreng.
Tunggu.
Na-nada cempreng ini..“Aprodite?!” kataku kaget
“ping pong!~ haha kamu ngapain sih dari tadi menatap meja kami? Bagaimana kalau kamu gabung dengan kami?” tanyanya sambil tersenyum.
“hhmmpp!!”
Setelah aku membungkam mulutku, gadis itu mulai berbicara panjang lebar. Dia mengatakan betapa kagetnya melihat perlakuanku pagi ini dan dia memarahiku karena ketidak sopananku. Michael hanya meringis dan tersenyum geli saat aku dimarahi. Diakhir kalimatnya dia berkata
“hei!!! Kamu mendengarkan tidak sih?”
“hah?”
“aku bilang mana ucapan ‘maafkan aku’ untukku??”
“haah?! Aku yang super populer ini harus meminta maaf padamu?hei yang menabrakku kan kamu!! Kenapa aku yang harus minta maaf???!!”
Entah kenapa semua bentakan itu keluar lagi dari mulutku. Tanpa sadar aku mendorongnya lagi dan kali ini kepalanya membentur meja.
Aku sama sekali tidak bermaksud melakukan hal itu, ketika aku mengulurkan tanganku untuk membantunya bangun sekalian meminta maaf, uluran tanganku ditepis oleh seorang wanita, dan beberapa peserta laki-laki menarikku mundur.
“dia tidak butuh uluran tanganmu yang kotor itu!”
“Tahu tidak?! sebenarnya kami semua sangat muak dengan tingkahmu!”
“Mungkin kamu sempurna tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya! Perbuatan kamu kali ini sangat kelewatan tahu!” Bentak mereka satu persatu.
“Hei sudah cukup! Jangan bertengkar! Lagi pula aku baik-baik saja kok.. Hanya saja ukh!!!” kata Aprodete.
“ Tapi kakimu terbentur!!”
“hahaha paling membiru sedikit.. tenang saja hal kecil seperti itu tidak akan mempengaruhiku nanti saat final” katanya ceria sambil membentuk huruf V dengan jarinya.
“untung saja kamu baik baik saja.. huft.. susah ya kalau ada seorang bintang sombong dan tidak tahu malu sepertimu mengikuti audisi ini...”
Mereka semua menatapku dengan tatapan merendah dan seolah jijik dengan diriku. A-a-aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu hanya saja... hanya saja..
Ukh.. baiklah jika kalian lebih menyukai diriku yang sombong dan menatapku jijik seperti itu maka aku akanmenjadi seperti yang kalian inginkan..
“Haaa???!!!!!!! Mengikuti? Asal kalian tahu ya!! Aku ini D-I-U-N-D-A-N-G beda dengan kalian yang mengajukan diri lalu dipilih oleh mereka!! jadi jangan sok deh!!”
Ketika kalimat itu keluar, aku dapat menduga ekspresi mereka kecuali ekspresi yang dikeluarkan Aprodite. Dia terlihatsedikit terkejut dan sedih disaat yang bersamaan.
Saat aku melirik ke araah Michael, laki laki itu malah sibuk foto dengan para fans-nya.
Kalimat Michael yang tadi terus terniang di kepalaku. Aku benar benar tidak pernah berpikir bahwa semua kalimat yang aku ungkapkan merupakan kesombongan. Menurutku sendiri kalimat itu cuma sesuatu kepercayadirian bukan pamer atau sombong.
Setelah peristiwa itu aku kembali kekamar dan langsung istirahat. Tidurku tidak nyenyak kali ini. Mungkin karena aku kelelahan atau karena ini tempat baru.
Keesokannya banyak kegiatan yang kami ikuti mulai dari belajar bergaya, modeling, fotografi dan sebagainya. Selain kegiatan inti kami juga pergi ke beberapa tempat untuk bersenang senang. Seingatku waktu itu kami sedang makan siang disebuah restoran dan aku seperti biasa duduk di pinggiran sambil memandangi pemandangan di luar.
Ketika aku melihat kearah jendela, tiba tiba semua pemandangan bergerak. Lagi lagi aku melamun dan kali ini lamunanku pecah saat berada di dalam bus. Sepertinya semua kegiatan hari ini telah selesai dan sekarang sepertinya kami menuju hotel untuk beristirahat.
Entah kenapa aku merasa muak dengan pemandangan malam yang sebenarnya sangat indah. Aku hanya memalingkan mataku dan kembali membawaku untuk memandang tempat Aprodite. Dia terlihat sangat ceria dan dapat mencairkan suasana seperti biasanya. Padahal kakunya pasti masih kesakitan karena waktu itu aku sempat melihat seberapa besar memar yang ada dikakinya.
Entah kenapa setiap kali aku mencari masalah sepertinya dia selalu melindungiku. Entah mungkinaku yang kepedean, atau dia yang kurang kerjaan. Tapi semua kegiatan hari ini tidak membuatnya terlihat kelelahan.
Di dalam bus aku duduk di belakang. Sendiri. Dari siitu aku bisa melihat Aprodite tanpa harus mencuri curi pandang. Disitulah aku mengatahui bahwa Betapa lembut dan baiknya Aprodite itu. Pantas saja semua orang menyukainya. Aku menghela nafas dan memalingkan wajahku. Tiba tiba aku merasa sangat mengantuk dan dalam hitungan menit aku tertidur dan mulai bermimpi.
Saat aku terbangun tiba aku melihat Michael ada disampingku dan itu membuatku nyaris berteriak. Sebelum sempat teriak, Michael menaruh telunjuknya dimulutku dan mulai berbisik.
“jangan teriak.. atau dia akan terbangun...”
Dia berkata seperti itu sambil menunjuk ke sebelahku yang lain. Aku pun ikut menengok. Disana ada Aprodite. Tertidur. Hal itu membuatku semakin kaget dan akhirnya dia terbangun.
“oh.. hai.. hoam.. bagaimana tidurmu? Apa kamu mimpi indah” tanyanya setelah bangun.
“umm.. i-i-iya”aku tak yakin dengan jawabanku.
“a-a-aapa yang kamu lakukan disini?” tanyaku
“menunggumu bangun... apa lagi menurutmu? Tapi sepertinya aku ketiduran. Hahaha.. maaf telah merepotkanmu” katanya lagi.
Saat dia tertawa seperti itu aku merasa ada banyak tatapan dingin yang tertuju kepadaku, benar saja orang orang yang didepan merasa cemburu parah dan hal itu membuatku takut. Semua peserta kecuali Michael tgerlihat begitu kesal dan memandangku rendah (lagi).
“kamu sendirian kan?! Gimana kalau maju kedepan kita ngobrol bersama di depan... ayo Michael juga”
Lalu Aprodite menarikku dan Michael ke depan. Disana untuk pertama kalinya aku merasa senang karena dapat bergabung dengan mereka.entah sihir apa yang di ucapjkan oleh Aprodite hingga akhirnya semua orang didekatnya dapat merasa nyaman bersamaku.
Disitu aku sadar bahwa semua peserta laki laki telah jatuh cinta dengan Aprodite. Dan beberapa peserta perempuan mungkin sedikit membencinya. Sepertinya nama Aprodite sangat cocok untuknya.
“aku mau ke toilet dulu ya...” kataku tiba tiba, lalu pergi meninggalkannya.
Saat berada di dalam toilet aku mendengar beberapa peserta laki laki. Sepertinya mereka sangat emosi.
“apa-apaan si Cole itu?! Seenaknya saja mendekati Aprodite.”
Mereka tidak hanya emosi tapi juga sangat marah, semua kalimat yuang mereka keluarkan hannya cacian yang di tujukan padaku, mereka seolah mengutukku. Walaupun kesal tapi semua perkataan mereka ada benarnya. Mungkin aku memang terlalu kelewatan kali ini. Aku ingin sekali memberontak tapi aku sama sekali tidak dapat membantah kalimat mereka.
Aku pun memutukan untuk keluar dari toilet. Saat keluar tiba tiba mereka berada tepat didepanku.
“sepertinya kamu telah mendengarkan semua perkataan kami.. mungkin lebih baik kalau kami berkata langsung tepat dimukamu. “ kata salah satu laki laki
“bisakah kamu menjauh dari Aprodite!! Kamu itu ngga pantes tahu ngga untuk mendekatinya..”
“kamu tuh jangan besar kepala hanya kerana kamu punya banyak kelebihan dari pada kami, itu menyebalkan tahu!!!”
Mereka semua tiba tiba menarik kerah bajuku lalu menyeretku keluar dari toilet. Aku diseret ke samping tangga darurat. Aku mengerti kenapa mereka menyeretku kesana, tapi yang aku tidak mengerti kenapa semua peserta kecuali Aprodite ada disana. Bahkan Michael pun ada.
Saat aku menatapnya, laki-laki itu tersenyum. Aku hanya meliriknya dengan emosi namun tiba tiba dia mendekat sambil berbisik
“aku sudah bilang kan?! Kesombongan kamu itu membawa mala petaka” dengan nada yang
sangat menyeramkan laku terkikik seolah bahagia karena meneteskan asam di lukaku.
Mereka semua mengerubungiku dan mencaci makiku dengan cacian yang sangat menyakitkan. Semuanya itu seolah mereka secara bersamaan menyiksaku secara verbal dean nyaris membuat psikologiku terganggu. Selesai dengan semua cacian itu mereka bertanya
“hei.. kamu mendengar kan? Hei! Jawab” kata seseorang sambil membentak.
Aku sama sekali tidak dapat merespon lagi. Rasanya badanku kaku dan otakku terasa kosong. Saat itu aku merasa kalau aku itu hanyalah sebuah manekin yang tak berguna. Aku nyaris tidak percaya dengan semua yang mereka katakan padaku. Aku bertanya pada diriku apakah semua cacian yang menjijikan itu ditujukan padaku? Kalau seandainya iya, berarti selama ini aku sudah menjadi anak yang sangat menjijikan, pantas mereka membenciku.
Entah bagaimana tiba tiba yang aku rasakan adalah tubuhku melambung tinggi. Sepertinya aku didorong ke lantai bawah. Aku tidak bisa teriak. Aku tidak peduli dengan apapun. Saat aku menyerah akan segalanya, tiba-tiba aku merasa seseorang menjadikan dirinya sebagai matras sehingga aku terhindar dari gegar otak, tapi disaat itu juga aku tersadar saat beberapa peserta wanita menerikan sebuah nama
“APRODITE!!!!!”
“KA-ka-kamu kenapa melakukan hal itu?” kataku segera menyingkir darinya.
“haha ngga usah berlebihan aku baik baik saja kok...”
“ka..kalu begitu ka-ka-kamu permisi dulu ya..” kata beberapa dari mereka lalu merekapun leri terbirit birit.
Aku mengulurkan tanganku lagi kali ini tapi dia menolak dan mencoba untuk bangun sendiri namun tiba tiba terjatuh lagi.
“sudah kuduga.. kakimu terkilir... tapi untuk saat ini tidak terlihat terlalu parah jadi saranku adalah jangan memaksakan diri” kata Michael setelah membantuku mengobati pergelangan kaki Aprodite.
“makasih banyak ya Micha”
“aku masih tidak percaya seseorang seperti Cole akan berlari seperti itu dan memohon mohon padaku untuk menolong seorang gadis yang terkilir... itu sama sekali tidak keren... kalau sampai fansmu tahu mungkin mereka meninggalkanmu hahaha” katanya lagi, kali ini dengan nada mengejek
“sial kau”
“tapi menurutku sikapmu tadi manis lho.... aku suka deh” kata Aprodite.
Mendengar hal itu aku memerah lagi dan tidak bisa membalas apapun. Hatiku hanya berdegup kencang padahal akutidak tahu apa penyebabnya.
Michael melirikku saat aku salah tingkah lalu dia berbisik
“ Jangan jangan kamu jatuh cinta padanya ya?!”
“hah??!”
Dia tidak berkata lagi dan meninggalkan kami berdua.
Kami pun mulai berbincang bincang mengenai banyak hal sampai akhirnya panitia memanggil kami untuk segera ke panggung.kami diseret dan deberikan baju ganti yang lumayan keren, di make up dan siap untuk naik ke atas stage.
Saat grand final mau dimulai seorang panitia mengumumkan bahwa kami harus berpasangan nantinya setelah modeling solo. Semua pasangan telah di bagikan dan Aprodite berpasangan dengan Michael.
Aku merasa sangat kecewa karena pasanganku bukan dia. Sebelum grand final dimulai kami harus memikirkan taktik yang cocok untuk berpose saat berpasangan nanti.
Semua peserta terlihat sangat canggung kecuali pasangan Aprodite dan Michael. Mereka terlihat sangat serasi yan itu membuatku emosi.
“anuu bagaimana kalau kita mencoba seperti mereka?” tanya pasanganku.
“ngga jangan coba coba menyentuhku” kataku terlanjur emosi.
Karena emosiku semua yang aku lakukan jadi berantakan bahkan saat berpose. Semua pose yang kulakukan terlihat sangat dibuat buat. Setelah tampil solo aku kembali kebelakang pangguung. Aku melihat Arodite maju dang dengan sangat sempurna dia melakukan berbagai pose dengan sangat natural.
Begitu selesai pose solo dia mencari Michael dan berlatih lagi untuk pose berpasangan. Saat latihan entah apa yang mereka lakukan aku tidak dapat melihatnya tapi secara tiba tiba
Michael menaruh tangannya di bahu Aprodite.
Hal itu membuatku sangat emosi dan tanpa sadar aku menepis tangan itu dari dari pundak aprodite. Aku sendiri kaget dengan apa yang aku lakukan terlebih lagi tepisan itu sangat kuat hingga Michael dan Aprodite tercengang.
“hei apa maksudmu melakukan hal itu!!!” tanya keduanya bersamaan.
Aku juga tidak tahu apa yang telah aku lakukan dan kenapa aku melakukan hal itu. Jadi aku
hanya terdiam tapi entah kenapa tiba tiba aku tidak dapat mengontrol mulutku sendiri. Hal itu sangat tidak dapat di percaya.
“a-a-aku tidak suka saat kamu disentuh dia.. DIA KAN BUKAN SIAPA SIAPA KAMU!!! KENAPA KAMU MAU DISENTUHNYA???” bentakku
“hei kenapa tiba tiba kamu teriak, lagi pula ini cuma sentuhan, aku tidak akan memakannya” kata Michael
“AKU NGGA PELU YANG JELAS SEHARUSNYA KAMU MERASA TERSINGGUNG SAAT SEORANG LAKI LAKI MENYENTUHMU KAN!!!!” kali ini aku berteriak sambil memegang tangan Aprodite dengan kencangnya.
“Cole.. sakit...”
Aku tidak mempedulikan rintihan itu dan makin mempererat pegangan tanganku hingga akhirnya tangan Michael memegang tanganku sambil berkata
“genggamanmu bisa mematahkan tangan mungilnya, lihat ekspresinya” katanya dengan nada
yag serius dan dingin.
Aku lalu menengok ke arah Aprodite. Wajahnya terlihat kesakitan sekaligus ketakutan. Dia berusaha sebisa mungkin untuk menahan air matanya agar tidak keluar. Aku sadar bahwa genggamanku membuatnya sakit lalu melepasnya.
“COLE!!! KAMU KENAPA SIH?? ITU KAN HANYA SENTUHAN, LAGI PULA AKU SUDAH MENGIJINKANNYA KOK!! KAMU ITU... KALI INI KAMU EGOIS BANGET!!!” bentaknya.
Aku tercengang, ku pikir dia akan membelaku lagi tapi ternyata...
Entah kenapa aku merasa sangat sakit aku tak percaya orang yang paling tidak ingin untuk membenciku sekarang malah memarahku dan mengeluarkan kata kata yang tidak ingin kudengar sama sekali darinya.
Aku telah menyakitinya, menyakitinya berkali kali dan hal itu tidak membuatku jera karena berkali kali pula dia memaafkan ku. Hal itu membuatku besar kapala seolah tidak ada orang didunia ini yang dapat menghukumku, tapi aku salah. Aku-a-aku..
Akhirnya aku menyadari semua kesalahanku dan saat aku menyadarinya sebuah perasaan aneh tiba tiba mucul. Rasanya seperti sakit dan tertekan seolah jantungku diinjak dan aku menjadi sulit bernafas karena suatu hal yang tak kumerti. Hal itu pula yang yaang membuatku malu karena telah bertingkah bodoh selama ini. Dengan muka memerah dan airmata yang nyaris keluar. Aku berlari menjauh dan keluar ddari belakang panggung.
Aku benar benar bodoh!!! Aku mengutuki diriku sendiri. Dan akhirnya aku merenungkan semua perbuatanku selama ini. Semua kebodohan yang kulakukan dan semakin aku menghitungnya semakin aneh rasa yang ada di hatiku.
“hei... sepertinya kamu telah menyadari semua kesalahanmu...”
“Michael...”
“stop.. jangan bicara... aku mengerti apa yang mau kamu katakan dan apa yang membuatmu sulit mengatakannya... kau tahu semua ini masih dapat diubah” katanya perlahan
Kini aku mengerti kenapa semua wanita menyukai Michael. Dia terlihat begitu keren dengan ketenangan itu. Semua kalimat yang diucapkannya mungkin menyakitkan tapi semua itu ada benarnya dan dia inginkan adalah merubah pola pikir seseorang.
Dengan tatapan yang tenang itu dia terlihat begitu dewasa dan berwibawa, sangat cocok dengan perawakan Aprodite manis.
“Michael benar Cole... tidak pernah ada kata terlambat untuk memperbaiki kesalahan... Oh ya aku mau minta maaf karena membentakmu ta-tadi...” kata Aprodite setelah muncul dengan tiba tiba.
Aku terenyah saat melihatnya meminta maaf. Mereka benar, aku masih bisa memperbaiki kesalahanku, aku..aku masih bisa mengembalikan semuanya. Karena kalimat mereka berdua aku mengelap air mataku dan tersenyum kecil sebelum akhirnya aku meminta maaf kepada mereka
“a..anu.. akulah ya-ya-yang sa-lah ma-ma-maafka aku!!!” kataku akhirnya.
Aku baru tahu bahwa meminta maaf itu sangat sulit terleih jika orang yang kamu ucapkan maaf malah mentertawaimu..
“hahahahaha tentu saja kami memaafkanmu”
“ayo sebaiknya kita kembali sekarang dan memberikan kejutan pada semuanya”
Kami pun tersenyum lalu berlari ke belakang panggung. Disana semua orang sudah menunggu kami untuk beraksi. Pertama adalah giliran pasanganku. Kami naik keatas panggung bersama. Sebelum keluar dan memasuki stage, aku berkata
“jadilah dirimu sendiri dan tunjukan daya tarikmu pada mereka semua, sisanya biar aku yang mengatur. Ingat rileks dan jangan lupa untuk tersenyum.”
“ah.. ba-ba-baik!!” jawabnya bersemangat.
Kami pun masuk ke stage dengan gaya kami masing masing, saat kami berpose berdua, aku telah memikirkan posenya dan pose kamipun terlihat sempurna dan alami sehingga semua orang tersenyum dan bertepuk tangan dengan gembira.
Setelah kami selesai, sekarang giliran Aprodite dan Michael. Aku melihatnya dari belakang panggul awalnya mereka hanya berpose dengan pose sederhana, namun di akhir pose semua penonton dan peserta termasuk aku tercengang, setelah mambatu beberapa menit mereka berteriak dengan semangat dan memberikan standing aplouse yang sangat meriah, semua kecuali aku.
Akhirnya aku menyadari kalau aku jatuh cinta dengannya dan si Michael sialan itu berani melakukan hal itu. Begitu kembali ke belakang panggung Michael menjulurkan lidahnya dengan ekspresi jail.
Aprodite mendatangiku dan menarikku ke tengah para peserta sambil berkata..
“Teman teman!!!! Cole mau menyampaikan sesuatu harap didengar ya!!!”
“EH?????”
Aku yang kaget hanya bisa melirik ke arah Aprodite dan Michael. Saat melirik kearah mereka, mereka hanya membalasnya dengan tatapan ‘selamat berjuang’ dan sekali lagi hal itu membuatku malu. Akhirnya aku mengumpulkan semua keberanianku dan mulai berkata...
“aku mau minta maaf atas semua yang aku lakukan ke kalian. Aku benar benar baru sadar atas semua kesalahan itu dan itu membuatku sangat.. sangat ma-ma-malu... pokoknya sekali lagi MAAFKAN AKU!!”
Mereka semua terkejut, lalu tertawa bersama sama. Kemudian mereka juga meminta maaf atas semua perbuatan yang mereka lakukan kepadaku. Saat semua masalah selesai kini kami naik ke atas pangung bersama untuk melihat siapa yang akan menjadi pemeneng.
Seperti yang telah kuduga, Aprodite dan Michael menjadi pemenag utama dan entah kenapa mereka memilihku sebagai pemenang favorit. Selesai acara itu kami semua diwawancarai oleh beberapa media massa.
Begitu banyak pertanyaan yang dilayangkan kepada kami hingga pada akhirnya ada pertanyaan yang benar benar menarik perhatianku dan semua peserta lainnya.
“kalian terlihat begitu serasi dan natural saat berpasangan tadi, apa yang membuat kalian seperti itu? Apa mungkin kalian berpacaran?”
Kami semua benar benar menunggu pertanyaan itu. Kalau dipikir pikir, selama masa karantina Aprodite dan Michael selalu bersama dan mereka terlihat sangat akrab. Jelaslah jika semua peserta menjadi penasaran dengan semua hal itu.
Aprodite dan Michael saling pandang lalu tertawa..
“tentu saja bukan!! Perempuan ini sepupuku, rencananya dia ingin memasuki dunia intertein setelah melihatku, makanya aku mengajaknya untuk ikut audisi kali ini iya kan kak?”
“tentu saja.. hahaha kami ini selalu bersama dari kecil, lagi pula apakah kalian tidak sadar selama ini akulah yang selalu menemaninya shooting, bahkan aku pernah beberapa kali muncul di TV kok..”
Aku merasa sangat lega... tunggu.. kakak.. mendengar kalimat itu aku sedikit ketakutan, bagaimana jika ternyata dia... berarti dia lebih tua dong..
“hei Aprodite!! Berapa umurmu?”
“umurku? Hmmm bulan mei nanti mungkin 18 tahun hehe”
Semuanya tercengang mendengar pengakuan itu. Selama ini kami mengira dia berumur 15 tahun tapi ternyata dia sangat sangat tua.
“jangan coba coba menyebutku tua mengerti?!” katanya dengan tatapan membunuh.
setelah kejadian itu aku pulang kerumah, sebelum pulang, aku memanggil Aprodite, dan mengungkapkan isi hatiku setelah minta maaf dan berterima kasih atas segalanya. tapi saat aku mengungkapkannya dia menghela nafas lalu tersenyum.
"maaf aku tidak bisa menerima perasaan kamu..." ucapnya sambil mengacak rambutku.
tepat setelah dia mengucapkan itu aku emosi dan mulai berteriak
"kenapa??? kenapa? a-aa-apa itu karena aku terlalu muda? a..apa......"
sebelum sempat aku menyelesaikan kalimatku Michael datang, dia sedikit bingung namun dengan cepet dia membaca suasana, lalu menahan tawanya.
"hey hey hey apa yang kalian lakukan? aku tidak mengganggu kan?!"
"oh Micha!!"
"ummm biar kutebak, Cole, menyatakan perasaannya padamu?! o....0...o.. hahhaahahaha tebakanku benar!!! hahaha"
aku langsung kesal dan membuang mukaku dan menjauh darinya karena tatapan mengejeknya yang menjijikan itu melihat tepat ke aku. rasanya aku mau mati sekarang karena rasa malu ini, tapi Aprodite menolongku (lagi)
" Micha!! cukup!!! berhenti mengganggunya!!! kasian dia!!! lebih baik sekarang kamu ke sana, Zeus mungkin sudah sampai, dan.." dia mulai membuat nada suaranya menakutkan "oh mungkin sebaiknya aku memberitahu semua yang kamu lakukan selama masa karantina"
"EEEEHHHHH!!!! kenapa?!"tatapannya sangat terkejut
"karena dia menawarkan barang bagus kepadaku, hehehe mungkin jika aku mendapatkan tawaran yang lebih bagus aku akan mempertimbangkan pilihan kalimatku"
aku sama sekali tidak tahu tentang siapadan apa yyang mereka bicarakan, tanpa sadar aku bertanya "siapa Zeus?"
"Oh... itu..."
"itu adalah monstrer jahat yang licik!!!" kata cowo itu sambil menggerakkan tangannya mencoba menakutiku
"jangan dengarkan omongan Micha... Zeus itu kakakku..."
"oh.."
Setelah itu mereka asik lagi dan aku jadi sedikit terlupkan, namun akhirnya Aprodite berhasil mengusir Michael, dan mendekatiku. saat mendekat dia membisikkan sesuatu yang mengejutkanku..
Saat selesai berbisik, aku melihat mukanya memerah, membungkuk seperti orang jepang, mengucapkan selamat tinggal dan berlari mengejar Michael.
Sungguh aku sangat bersyukur untuk mengikuti audisi ini karena sekarang hal kecil berhasil mengubah kepribadianku menjadi lebih baik dan sampai sekarang pun aku masih tidak dapat melupakan gadis aneh yang ketemui 3 tahun lalu dan perasaan ini.. aku harap kami dapat bertemu suatu saat nanti.
"mungkin aku akan jatuh cinta padamu saatkita bertemu lagi nanti, dimana kamu akan kelihatan
lebih dewasa dari pada sekarang"
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus